Bieenalle Bank Sampah Klaten 2020 : Sampah Dibuat Lukisan, Vas sampai Rumah Mikro

perayaan-Bieenale-Bank-Sampah-2020
HASIL SAMPAH : Hasil karya peserta pada perayaan Bieenale Bank Sampah 2020 di Kabupaten Klaten. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)

SAMPAH selama ini bikin pusing masyarakat dan pemerintah karena dibuang sembarangan dan produksinya terus meningkat. Namun di perayaan Bieenale Bank Sampah 2020 di Klaten, tumpukan sampah bisa disulap menjadi berbagai bentuk benda yang bermanfaat.

Sampah yang sekilas tak berguna di dalam kegiatan seni itu ternyata disulap jadi puluhan lukisan, vas, patung, kursi, sampai rumah mikro. Bahannya pun dari berbagai jenis sampah organik dan non organik dari berbagai daerah.

Direktur Artistik Bieenale Bank Sampah 2020, Temanku Lima Benua Kamis (30/7/2020) siang usai penutupan kegiatan di Jalan Cawas- Bayat, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten mengatakan kegiatan itu sebenarnya merupakan sebuah perayaan seni kontemporer dua tahun sekali.

Perayaan diikuti dan dikerjakan anak muda dan gen Z tetapi tahun ini dengan memanfaatkan sampah agar jadi barang berguna.

” Kegiatan digelar untuk memberikan pemahaman ke masyarakat pentingnya mengelola sampah. Anak muda harus bisa mengelola sampah jadi sumber daya baru,” jelas Lima Benua yang akrab dipanggil Liben, Kamis (30/7).

Liben yang juga seorang pelukis mengatakan Indonesia saat ini merupakan negara penghasil sampah terbesar kedua di dunia. Anak muda yang ikut dalam kegiatan itu ingin mengelola sampah jadi sumberdaya baru bagi kehidupan. Hal itu diwujudkan dengan bahan yang digunakan dalam kegiatan itu semua dari sampah. Baik kertas, besi, botol, plastik, cat, dan lainnya. Kegiatan tahun ini selain workshop juga pameran karya bank sampah.

Seniman Pendamping

Peserta, lanjut Liben, dari generasi muda dan bank sampah di Klaten. Ada 15 seniman dari berbagai bidang yang mendampingi 32 bank sampah dari berbagai daerah di Klaten.  Untuk seni lukis misalnya ada beberapa sampah yang bisa digunakan. Bisa sampah sisa percetakan, sampah daur ulang, kanvas sisa dan cat sisa dan plastik dibakar jadi lukisan dan peserta diberi pelatihan.

 ” Peserta diberi pelatihan secara virtual dan langsung lalu setelah jadi dikumpulkan. Tidak hanya lukisan tapi juga dibuat barang lain seperti kursi, patung, sampai rumah mikro berbahan sampah,” tambah Liben.

Setelah penutupan sudah dibuat komitmen bersama. Komitmen itu akan disampaikan ke berbagai pihak. Komitmen akan diserahkan ke pemerintah baik menteri, presiden sampai pemerintah daerah.  Yang spesifik, kata Lima Benua, tahun ini adalah uji coba membuat rumah mikro berbahan sampah.

Rumah itu bisa jadi alternatif rumah murah dan darurat. Rumah mikro ini semua dari barang bekas dengan perkiraan biaya Rp 5 juta sudah bisa untuk tinggal. Rumah mikro hanya berupa rumah panggung bersusun dua atau tiga. Pondasi dari tong bekas dicor semen dan kerangka dari besi bekas dirangkai, atap dari seng bekas dan dinding dari plastik dan kertas daur ulang.

Ukuran rumah mikro hanya 2×3 meter yang bentuknya seperti rumah susun. Meskipun bekas rumah itu cukup kuat. Roli, peserta workshop rumah mikro mengatakan butuh seminggu untuk membuat rumah mikro. Bahan besi bekas dan holo. ” Bahan bekas besi dan cukup kuat. Untuk dinding tiga lapis jadi juga aman,” kata Roli. (Achmad H)

Editor : Budi Sarmun