Biennale Bank Sampah, Kolaborasi DLHK dan Seniman, Produksi Sampah Capai 70 Ton Perhari

Biennale-Bank-Sampah-Klaten
JAGA JARAK : Kepala DLHK Klaten Srihadi dan Temanku Lima Benua memakai topi bertanduk saat menjelaskan Biennale Bank Sampah di Kantor DLHK Klaten, Selasa (14/7). Tanduk menjadi simbol ajakan jaga jarak.(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten akan menggelar Binnale Bank Sampah, 23 Juli sampai 30 Juli 2020 mendatang di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Acara tersebut akan menjadi ajang edukasi, sekaligus apresiasai seni dengan memanfaatkan sampah.

‘’Biennale Bank Sampah akan digelar di ruang terbuka Desa Paseban, Bayat. Nantinya ada pameran 2 demesi dan 3 demensi, art work, work shop, musik dan lainnya. Acara dibuka pas Hari Anak Nasional,’’ kata Kepala DLHK Srihadi kepada wartawan di kantornya, Selasa (14/7)/

Dalam acara itu akan banyak dipajang barang seni yang dibuat dari sampah, ada pengolah sampah organik dengan maggot yang dibuat dari drum bekas dan dibentuk menyerupai kerbau, ada patung dari botol bekas berangka besi dan masih banyak lagi. Ada pesan peduli sampah di tema acara.

‘’Dari survei sederhana yang kami lakukan bersama DLHK, setiap rang minimal membuang ½ kg sampah perhari. Bila terbawa air sungai maka akan mengotori laut. Padahal sampah plastik susah diurai, jadi kami berupaya menjadikan sampah menjadi barang seni,’’ kata Temanku Lima Benua, salah satu seniman yang terlibat.

Acara akan melihatkan ibu-ibu pegiat Bank Sampah dan komunitas peduli sampah lainnya. Ada belasan seniman yang akan terlibat pada Biennale Bank Sampah 2020. Pemanfaatan sampah sejalan dengan Fatma MUI yang mengatakan haram membuang sampah sembarangan,’’ ujar gadis yang akrab disapa Liben itu.

‘’Indonesia adalah negara kedua penghasil sampah terbesar setelah Cina. Tahun 2025, ditargetkan 70 persen sampah tertangani. Acara itu sekaligus mengajak masyarakat terutama generasi Z untuk peduli sampah, dengan memilah sampah dan mengolah sampah,’’ kata dia.

Srihadi didampingi Kabid Pengendalian Dampak Lingkungan, Dwi Maryono mengatakan, volume sampah yang dihadilkan di Klaten mencapai 70 ton perhari. Saat ini, yang tertangani baru di 20 dari 26 kecamatan. Penghasil sampah terbesar di pasar-pasar dan sampah rumah tangga.

‘’Upaya menuju tahun 2025 70 persen sampah ditangani, kami lakukan dengan terus kampanye penanganan sampah. Merubah perilaku masyaraat tidak mudah, banyak yang berangkat kerja bawa sampah dibuang di jalan. Perda K3 dan Perda pengelolaan sampah sudah ada, ada sanksi yang akan ditegakkan,’’ tegas Srihadi.

Dengan upaya yang dilakukan, tahun 2019 ada 42 penanganan dan pengurangan 29 persen sampah dari seluruh Kabupaten Klaten. Kini juga sedang diajukan dump truck ke Kementerian Lingkungan Hidup untuk membantu DPR PR dalam mengatasi sampah.

Dwi Maryono menambahkan, DLHK mempunyai binaan sejumlah Bank Sampah yang sudah bisa berjalan dengan baik. Salah satunya dengan produksi pupuk organik, seperti di Desa Jatipuro, Kecamaan Trucuk. Namun diakuinya, masih ada yang perlu dukungan dan dorongan agar bisa lebih berkembang.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun