Adaptasi, Kunci Bisnis Era New Normal

new-life
FOTO ILUSTRASI

SOLO,suaramerdekasolo.com – Bisnis jenis apapun tetap berpotensi untuk tetap berjalan di era new normal. Sebab era tersebut bukan semata mata siapa yang memiliki teknologi paling canggih.

Namun kemampuan seseorang  untuk bereraksi dan beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan bisnis. Hal itu mengemuka dalam webinar yng digelar Universitas Islam Batik (Uniba) Surakarta bertema “Isu Dampak ekonomi di masa Pandemi dan Era New Normal”.

“Era newnormal bagi pelaku bisnis adalah melakukan hal yang benar di waktu, orang dan hasil yang tepat,” kata praktisi entreprenuer Dyah Ratna Heryati yang menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut.

  Dikemukakan, ada beberapa hal yang perlu diadaptasi dalam dunia bisnis di era tersebut.  Yang pertama adalah tak mengutamakan barang yang mewah namun lebih pada manfaat. Selanjutnya adalah mengutamakan pelayanan yang mengedepankan kebersihan dan higinitas produk.

 Ia mengutamakan ada beberapa terobosan yang bisa dilakukan pealku usaha untuk strategi di era new normal. Yang pertama adalah efisiensi yakni meninjau cash flow perusahan dan melakukn penghematan.  Selanjutnya adalah kreativitas, yakni melalui pemikiran yang out of the box. 

Selanjutnya adalah healthy concerns yakni mengutamakan kebersihan,  kesehatan dan keamanan sebagai added value dalam bisnis. Yang selanjutnya adalah melakukan bisnis based on online.  

Kepala Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP3M) Dr Ida Aryati Dyah Purnomo Wulan mengemukakan,  tema  tersebut sengaja diambil karena dampak ekonomi yang sangat terasa pada kalangan dunia usaha.

Tujuan dari webinar ini adalah untuk membahas masalah kondisi saat ini dalam dunia usaha untuk bisa bertahan dan membuat pola baru pada era new normal.

Dikemukakan, pada era new normal ini konsumen menglmi perubahan perilaku akibat adanya  karena itulah perilaku bisnis harus direcovery sesuai dengan perubahan perilaku.

  “Selain itu pelaku usaha juga perlu mengubah strategi dari hard selling menjadi soft selling dengn memanfaatkan teknologi komunikasi, ” katanya. 

 Acara yang berlangsung selama 2,5 jam ini diikuti 1.375 peserta baik yang mengikuti melalui aplikasi Zoom Meeting maupun channel YouTube. Peserta seminar ini terdiri dari kalangan dosen, mahasiswa, abdi negara, guru karyawan, pengusaha dan lainnya.(Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun