Pakel Dusun Barokah, Uji Coba Pengentasan 42 Warga Miskin Absolut

resto-sawah-karanganyar
RESTO SAWAH –Resto Sawah milik warga Dusun Pakel yang diharap bisa merubah nasib warga miskin. (suaramerdeksolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Resto Sawah, nama itu terpampang besar di dusun Pakel, Desa Gerdu, Karangpandan. Sebelah selatan pondok pesantresn Isy Karima. Dusun itu kini menjadi salah satu dusun barokah, yang dibina Baznas Karanganyar untuk program pengentasan kemiskinan absolut. Kemiskinan yang terjadi karena tidak memiliki pendapatan cukup.

Sekarang, setelah setahun program itu berjalan, secara perlahan warga miskin sebanyak 42 keluarga sudah bangkit, dan mulai bisa berbenah. Target pengurus Baznas dalam 3 tahun pembinaan, warga diharapkan sudah terentas dari status miskin dan berubah menjadi sejahtera.

‘’Setahun sudah tampak perubahan, targetnya 3 tahun, sayang ada covid ini sehingga tertunda. Namun perlahan tapi pasti, sudah mulai ada pengunjung resto datang sehingga ekonomi warga bangkit lagi setelah tiga empat bulan berhenti total karena wabah,’’ kata Iskandar, Wakil Ketua Baznas, Senin.

Hal itu dibenarkan Ustadz Syihabbudin, Ketua ponpes Isy Karima yang juga motivator warga agar bangkit dan mandiri secara ekonomi. Idealnya pengusaha baru mapan setelah 7 – 8 tahun. Namun warga Pakel diyakini menjadi pelaku usaha sukses dalam 5 tahun paling lama.

Awalnya Baznas membina dusun Jantiharjo Karanganyar kota. Namun setelah dibina diberi kucuran dana sampai Rp 350 juta, ternyata sekitar 40-an warga miskin absolut tak beranjak. Ketiadaan pendamping yang mengawasi menjadi titik lemah sehingga warga tidak bergerak.

Karena itu saat ponpes Isy Karima menyediakan diri jadi pendamping, Baznas bersedia. Dana pertama dikucurkan Rp 150 juta. Warga dipilah jadi peternak, resto bagi yang senang masak, penjahit, tukang kayu, tukang bikin souvenir, tukang batu, dan lainnya. Pokoknya semua sesuai keahliannya.

Ustadz Syihan turun tangan membina, memberikan motivasi. Santrinya turun tangan jadi pendamping dan konsultan. Pertama yang dibina adalah soal kejujuran. Jika diberi dana untuk beli bibit lele, harus dibelikan lele, kalau untuk beli alat pertukangan ya dibelikan untuk itu. Jangan sampai dana dibelikan ponsel atau untuk beli pulsa.

Jadilah di dusun itu ada peternak lele, ayam kampung, kelinci dan lainnya. Karena desa itu banyak ahli masak, Syihab memberikan tanahnya untuk membuka resto yang diberi nama Resto sawah karena menghadap sawah. Hasil masakan warga ditampung di situ jadi menu.

‘’Tenyata banyak yang cocok karena hasil masakan warga enak. Akhirnya Resto Sawah terkenal apalagi Ustadz Syihab dan santri Isy Karima yang berasal dari Jakarta, Lombok, Aceh, Palembang, Yogyakarta dan kota lain menjadi tim pemasarannya. Maka datanglah rombongan orang berlibur ke Karangpandan. Warga Pakel juga tergerak membuat homestay untuk penginapan.’’

Kini di resto itu juga dilengkapi dengan kolam renang keluarga. Warganya dilatih Bahasa Inggris, Jepang, Mandarin dan Arab, karena banyak santri dari Malaysia yang nyantri di pondok tersebut. Bahasa Inggris diajarkan agar ke depan siapa tahu ada turis Amerika datang.

Untuk menambah motivasi, warga diajak belajar ke Pujon, Malang, kampung bahasa Inggris di Pare, Kediri, diajak ke desa wisata yang lain. Tujuannya satu, nonton, niru, dan nambahi yang dilihat diterapkan lebih baik.

Iskandar senang dan puas melihat secara perlahan warga miskin mulai bangkit ekonominya, dan berharap suatu saat bisa melihat warga di situ sudah berubah kaya dan sejahtera.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun