Menengok Kerajinan Patung di Urutsewu Ampel Boyolali

patung-bahan-baku-andesti-boyolali
BATU ANDESIT: Salah satu perajin menyelesaikan patung pesanan dari bahan batu andesit. (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Kerajinan patung batu andesit masih menjadi tumpuan sebagian warga Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel. Pemasaran selain kawasan lokal, juga mencapai mancanegara.

Jika datang kesana, bakal terdengar suara pahat berpadu dengan palu dan batu andesit dari para perajin. Sebgaian besar perajin membuat patung bercrak Hindu- Budha. Namun sebagian lagi membuat patung sesuai pesanan.

“Menurut sejarahnya, desa kami ini dulu adalah Hindu-Buddha. Dalam perkembangannya, perlahan ada sebagian warga memeluk Islam. Meski demikian, Islam di desa kami rata-rata Islam kultural alias Islam yang tetap menghargai akar tradisinya dan teloransi dengan umat agama lain,” kata Sriyanto (40) salah satu perajin.

BACA : Seru, Virtual Tour Taman Kehati Aqua Klaten

Dijelaskan, masa kejayaan perajin patung mulai terlihat mulai sekitar 1990-an. Stok patung produksi desa ini selalu terjual. Karya yang banyak diminati adalah patung Buddha. Ada juga patung Dewi Sri, Dewi Shinta atau Ganesha.

“Kondisi sekarang ini membuat pematung dituntut kreatif mencari peluang pasar yang baru. Harga patung bervariasi dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah,” ujar Sriyanto (40) salah satu perajin. Diungkapkan, kendati yang dipahat adalah patung dewa, namun dirinya tidak bersikap eksklusif dan membeda-bedakan para karyawannya karena agama. Pria satu anak ini justru ingin menunjukkan bahwa semua warga bisa menjadi perajin patung Buddha tanpa tersekat agama.

“Karyawan saya ada 12 orang. Sebagian pematung Buddha adalah muslim dan sebagain lagi Buddha.”

Baca : PSBB Diperpanjang, Ini Jadwal Tontonan Drakor Fresh Satu Pekan di Viu

Ditambahkan, para pematung Desa Urutsewu kini mulai terbuka dengan garapan patung yang tak disakralkan. Jika dahulu hanya memahat patung untuk sesembahan dan pembeli internasiona. Sekarang pematung mulai membidik pembeli lokal di tingkat Jawa Tengah.

Mereka bekerjasama dengan desainer interior atau taman. Perajin patung pun kini sudah sibuk menggarap relief taman atau interior rumah.

“Ini tuntutan era sekarang. Jadi tidak ada salahnya mengambil peluang yang ada.”

Kepala Desa Urut Sewu, Sri Haryanto mengapreasiasi keragaman warganya. Dia menyebut harmoni yang ada sejak ratusan tahun silam ini sebagai potensi desa luar biasa. Sekaligus membuktikan bahwa perbedaan agama bukan jadi halangan untuk hidup bersama.

“Warga kami dibingkai dalam keragaman budaya. Beragama, tapi tetap berbudaya dan tak mau meninggalkan akar kebudayaannya,” tegasnya. (Joko Murdowo)

BACA : Buku tentang Cara Pandang Baru Wujudkan Kualitas Manusia Unggul Diluncurkan

Editor : Budi Sarmun