soku-solo
SOKU SOLO : Peluncuran aplikasi Soku di Solo.

SOLO,suaramerdekasolo.com – Ketimpangan ekonomi lantaran banyaknya aktifitas masyarakat yang dihentikan pemerintah dengan tajuk darurat nasional hingga kondisi luar biasa (KLB), kata CEO Soku Soekma Agus Sulistyo, memberi efek luar biasa bagi semua kalangan. UMKM adalah salah satu bagian yang tidak bisa terhindar dari keadaan itu.

Munculnya kebijakan social distance, dimana masyarakat harus menjaga jarak dan tidak boleh bersentuhan secara langsung dengan siapa pun, mengunakan masker 24/7 dan bahkan mewajibkan warga memberi jarak jika berjumpa satu sama lain di tempat umum, kata dia, juga menjadi petaka bagi UMKM di bidang kuliner. Mulai dari yang berjualan keliling maupun yang hanya berjualan dari outlet atau warung.

Dikarenakan himbauan untuk work from home (WFH), sekolah-sekolah sampai kampus-kampus yang diliburkan, serta saran untuk tidak boleh pergi kemana-mana, papar dia, mengakibatkan warung-warung makan sepi dan omset nya menurun, paling tidak, sampai 80 persen per hari.

Nah, di situlah Soku hadir dengan harapan dapat membantu memberi solusi pada para UMKM kuliner. Melalui aplikasi yang dibangun para pegiat startup digital Solo, masyarakat yang lagi di rumah bisa memesan makanan apa pun.

“Virus korona ini masalah global. Karena banyak info-info yang masuk dari para produser atau umkm yang berjualan di aplikasi Soku, tentang jualan offline mereka yang sepi, lalu kami menyasar para pelaku umkm di desa-desa. Kami free ongkir, dan harga di aplikasi juga murah,” kata dia yang akrab disapa Jerta, kemarin.

Kenapa bisa murah, jawab dia, karena ada kurasi harga sebelum masuk upload menu di Soku. Dan restauran besar tidak otomatis diterima karena rata-rata harga makanan minuman yang dijual di aplikasi Soku itu murah, di bawah Rp 15 ribu. Soku hanya membebankan komisi 10 persen dan itu pun baru dimulai 1 Maret. Komisi itu muncul setelah para mitra kuliner upload foto makanan.

“Kemarin ada yang order gorengan harganya Rp 500 dan membeli 4 biji, sehingga sampai rumah hanya bayar Ro 2.000 saja. Tapi kita baru bisa melayani wilayah Solo, rencananya setelah Lebaran mau ekspansi ke Subosukowonosraten atau Soloraya, terang pria yang juga aktif di komunitas startup Solocon Valley itu.

Lantas perbedaan dengan aplikasi Gofood dari Gojek dan Grabfood dari Grab, Jetra mengatakan, aplikasi Soku diklaim lebih user friendly tidak ribet karena hanya berisi makanan saja dan mempunyai alur yang mirip social media.

“Kita bukan super app, jadi UI/UX nya sangat sederhana. Di Soku, pembeli l sewaktu-waktu juga bisa jadi penjual. Tidak ada order fee sama sekali, dari sisi produser atau penjual makanan, daftarnya hanya 1 menit, sisanya tinggal upload foto dan harga serta keterangan makanan yang mau dijual,” katanya.

“Dari sisi driver kita punya cita-cita mewujudkan visi kita, yaitu ibu masak bapak nganter. Jadi yang nganterin bisa suami sendiri, anaknya, adiknya atau siapa pun yang bisa naik motor. Sehingga pendapatan bisa masuk total ke dalam keluarga UMKM itu,” pungkasnya.(Vladimir Langgeng)

Editor : Budi Sarmun