Pilah Sampah Jadikan Sumber Daya

pengolahan-sampah-novrizal-tahir
Foto kode 23bsampah-klt-F5 DESA BERSIH : Direktur Pengelolaan Sampah Novrizal Tahir menyerahkan piala kepada Desa Polan sebagai juara lomba desa bersih, Minggu (23/2).(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com– Kebutuhan bahan baku kertas dari limbah kertas di Indonesia mencapai 6,5 juta ton pertahun, nilainya mencapai Rp 15 triliun. Dari jumlah itu, baru sekitar 3,2 juta ton yang dipenuhi dari dalam negeri, sisanya sejumlah 3,3 juta ton dipenuhi dari impor. Sayangnya, impor sering dibarengi sampah lain.

‘’Potensi pemilahan sampah sangat besar. Kebutuhan bahan baku kertas 3,3 juta ton masih dari impor. Impor scrap kadang dibarengi sampah popok dan lainnya. Ke depan, impor bisa dipenuhi dari dalam negeri dengan masyarakat memilah sampah,’’ kata Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, Novrizal Tahir.

Hal itu ditegaskan dalam talk show peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) di Umbul Besuki, Desa Ponggok, Polanharjo, Klaten, Minggu (23/2). Acara yang dipandu Direktur Lestari, Agus Hartono itu dihadiri Staf Ahli Bupati Wahyu Prasetyo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Srihadi, Kepala PT Tirta Investama Klaten Ketut Muaranata dan aktifis lingkungan.

Pemilihan sampah dilakukan dengan memisah sampah plastik, kertas, logam, kaca dan sampah organik. Sampah organik sisa rumah tangga bisa diolah menjadi kompos, bisa skala rumahan atau RW. Bisa juga dilakukan dengan memakai lubang biopori.

‘’Jadikan pilah sampah sebagai jalan hidup, bukan sekedar gaya hidup seperti meniru selebriti semata. Perubahan kultur baik akan membawa kemajuan. Contoh tahun 1960-an, kondisi Korea dan Ghana sama, tapi 30 tahun kemudian, Korea maju dan Ghana tetap. Ini persoalan kultur dan budaya,’’ ujar Novrizal.

Persoalan sampah menyangkut perilaku sosial, kultural, kelembagaan, politik dan teknologi, jadi multi demensi. Saat ini, sampah sudah menjadi hal yang menakutkan masyarakat di seluruh dunia. Sampah plastik trendnya makin lama makin tinggi, karena tidak bijak dalam berplastik.

pengolahan-sampah-novrizal-tahir2

Tahun 1995, volume sampah plastik yang sulit terurai di Indonesia sekitar 5 persen, namun sekarang sudah kisaran 15 persen. Dia mencontohkan ikan yang mati karena makan sampah plastik, penemuan bungkus mi instan yang sudah belasan tahun masih utuh.

‘’Survei BPS tahun 2018 menunjukkan, 72 persen orang Indonesia tidak peduli sampah. Sejak 1974, pengelolaan sampah diserahkan pemda, namun kapasitasnya masih sekitar 50 persen, harusnya 100 persen. Harus ada peran dari produsen seperti Aqua, contohnya membuat tas dari air mineral,’’ ujar dia.

Dia menyinggung peran Pemkab dalam pengelolaan sampah. Penilaian Adipura tak hanya dari kebersihan, tapi dari pengelolaan sampah dan ruang terbuka hijau. Tas belanja ramah lingkungan, tak pakai sedotan, dan stereofoam bisa menekan sampah plastik. Masyarakat diajak memilah sampah dari sumber dan dijadikan sumberdaya.

Kepala Dinas lingkungan Hidup dan Kehutanan Klaten Srihadi mengutarakan langkah yang sudah ditempuh dalam pengelolaan sampah, termasuk melibatkan Dai Lingkungan dan tokoh masyarakat.

Sedangkan Ketut Muaranata memaparkan upaya Aqua dalam menekan sampah plastik, salah satunya dengan mendaur ulang botol menjadi tas dan barang lain. Target 40 persen botol kembali, namun bisa terlaksana.

Dalam peringatan HPSN diserahkan pemenang lomba desa bersih, juara 1 Desa Polan, juara 2 Desa Wangen,  juara 3 Desa Jimus, juara harapan 1 Desa Kauman, juara harapan 2 Desa Keprabon, dan juara harapan 3 Desa Sidowayah. Acara diakhir dengan flashmob Beksan Wanara. Sehari sebelumnya dilakukan aksi bersih Sungai Pusur.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun