Buka Arena Anak-anak, Perpustakaan Jadi Tempat Penitipan

perpustakaan-karanganyar
RUANG ANAK-ANAK – Ruang Anak-anak di Perpustakaan Karanganyar, yang kadang berubah menjadi penitipan.(suaramerdekasolo.cm/Joko DH)

PERPUSTAKAAN jadi tempat penitipan anak? Itulah yang terjadi. Anak-anak sering disuruh datang ke tempat arena anak-anak, membaca buku, melihat tayangan anak-anak di televisi layar lebar, dari pagi sampai sore. Baru saat orang tuanya selesai berkegiatan, anak dijemput di Perpustakaan.

‘’Ya begitulah kejadiannya. Saya mau ngelokne ya bagaimana, wong niatnya arena anak-anak ini dibuat untuk mendatangkan anak-anak agar datang ke Perpustakaan, biar mengenal buku sejak dini, agar kegemaran mengunjungi Perpustakaan itu tumbuh sejak anak-anak. Eresikonya ya berubah jadi panti penitipan,’’ kata Bambang Harsono Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Karanganyar, Jumat.

Dengan tertawa, dia menceritakan, justru kunjungan anak-anak dari berbaai TK (Taman Kanak-kanak) dari berbagai daerah yang banyak. Setiap hari dua, tiga rombongan TK datang. Perpustakaan pun dengan tangan terbuka menerima mereka.

Bahkan Bambang secara khusus menata ruangan di bawah, di lantai 1, untuk ruangan khusus Perpustakaan anak. Ada taman bermain, ada ruangan terbuka khusus menyediakan bacaan anak, TV layar lebar, dan sebagainya.

Karena itu anak-anak akan menjadi betah berlama-lama duduk manis di tempat itu. Kadang satu atau dua anak ditemani pengasuhnya, kadang orang tuanya sendiri, kadang malah setelah di ruang itu dipasrahkan ke petugas dan ditinggal berkegiatan sendiri.

Saat Suara Merdeka menyaksikan ruangan itu, saat itu sedang ada kunjungan anak-anak dari TK MTA Jumantono. Dengan riangnya anak-anak menikmati tontonan TV layar lebar yang menyuguhkan tontonan film kartun. Ada pula anak-anak yang sedang menikmati buku perpustakaan khusus buku anak-anak.

‘’Ada sekitar 5.000 buku anak-anak, mulai cerita Nabi, cerita pahlawan, cerita daerah, hikayat terjadinya daerah-daerah tertentu di Indonesia, dan sebagainya. Yang jelas dengan buku itu anak akan mengenal cerita daerah, Nabi dan lain sebagainya,’’ kata Bambang.

Tontonan layar lebar televisi juga diputar acara discovery, film kartun, dan cerita anak lainnya. Bukan sinetron yang memancing anak bervantasi aneh-aneh seperti sinetron sekarang itu. Ada mainan anak-anak jika mereka bosan di ruangan. Pengasuh perpustakaan dengan sigap juga mengawasi anak-anak itu.

Yang jelas Perpustakaan buka sampai jam 21.00, kadang untuk ruangan anak-anak buka sampai jam 05.00 sore, sehingga cukup waktu mereka pulang dan belajar di rumah. Yang buka jam 21.00 Perpustakaan dewasa.

Ada sekitar 60.000 lebih buku dan sekitar 40.000 judul aneka buku, ada beberapa majalah, surat kabar, ada juga sambungan internet yang akan disambungkan jika nanti butuh bacaan lain yang tidak ada di perpustakaan.

‘’Kami sedang merancang ruang baca tambahan dan juga buku karena ada bantuan Rp 1 miliar dari pemerintah pusat yang akan kami gunakan untuk pengembangan perpustakaan. Pokoknya senyaman mungkin sehingga pengunjung betah.’’

Bambang mengatakan, ada sejumlah warung, mulai pagi sampai malam hari di sekitar Perpustakaan, sehingga bagi yang lapar cukup keluar sebentar untuk makan, setelah itu kembali ke Perpustakaan lagi sampai larut.

Bupati Juliyatmono memang memerintahkan agar Perpustakaan dibuat senyaman mungkin. Agar warga masyarakat tertarik datang. Sebab hanya dengan membaca, maka wawasan masyarakat akan terbuka.

Dan itu mencoba diwujudkan Bambang dengan menata ruangan di Perpustakaan senyaman mungkin, untuk anak-anak sampai dewasa.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun