5.500 Paket Durian Ludes Diserbu Warga, Festival Durian 2020

festival-durian-klaten-2020
DURIAN GRATIS: Warga berebut paket durian gratis saat Festival Durian 2020 di Desa Randulanang, Jatinom, Klaten. (suaramerdekasolo.com/Achmad H)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Ribuan paket buah durian siap santap ludes diserbu warga saat festival durian 2020 Kabupaten Klaten. Dalam hitungan menit, durian habis diperebutkan warga yang hadir dari berbagai wilayah.

Camat Jatinom, Wahyuni Sri Rahayu menjelaskan tahun ini pelaksanaan festival dunia sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya.

” Durian sudah berwujud paket tanpa kulit. Sebab jika dengan kulit rebutan bisa terluka tangannya,” ungkapnya, Minggu (2/2) di sela festival.

Festival selain dihadiri ribuan warga, dihadiri Bupati Klaten, Sri Mulyani, Sekda, Jaka Sawaldi, Ketua DPRD, Hamenang Wajar Ismoyo dan Muspida serta tokoh masyarakat. Festival diawali dengan arak-arakan gunungan paket buah durian dalam kemasan plastik di panggung. Setelah dibuka Bupati dengan membelah buah durian, gunungan durian ludes dijarah warga.

Tiga tenda panitia yang menampung durian siap makan diserbu warga. Warga yang membawa kupon sejak pagi langsung menyerbu tenda. Berdesakan, saling sikut dan injak tidak terelakkan tetapi semua berjalan lancar. Warga yang mendapatkan paketan langsung lari membawa ke tengah lapangan dan dimakan bersama keluarga dan temannya.

Paket Durian

Camat, Wahyuni Sri Rahayu mengatakan jumlah paket durian yang disediakan 5.500 paket. Durian itu gratis dan warga tinggal menikmati. Paket sebanyak itu berasal dari sekitar 1.100 buah. Buah merupakan asli produksi lima desa di Jatinom yang sudah dikupas panitia. Di wilayanya ada lima desa yang produksi duren. Desa Randulanang, Socakangsi, Temu Ireng, Tibayan dan Beteng. Festival tahun ini merupakan kali ketiga dan terus akan dievaluasi sehingga lebih baik lagi.

Festival itu bertujuan untuk mengangkat produk petani berupa durian lokal Klaten yang tidak kalah mutunya dengan daerah lain. Kades Randulanang, Kecamatan Jatinom, Sumarno mengatakan selain mengadakan festival, desanya tengah merintis desa wisaya di sekitar Sungai Babon. Desa wisata itu sedang proses digarap. Nantinya desa wisata itu bisa menjadi satu paket dengan wisata buah durian.

” Nantinya akan ditanam banyak lagi pohon durian sehingga wisatawan bisa datang ke desa wisata sekaligus ke sentra durian,” ungkapnya.
Supriyanto, peserta festival mengatakan meskipun sudah berubah caranya tetapi tetap berdesakan sebab selain enak dan gratis, festival hanya setahun sekali. Namun demikian dirinya dan keluarga merasa senang bisa hadir.

” Hanya saja perlu perbaikan agar tidak terjadi desak-desakan. Kasihan yang membawa anak-anak,” jelasnya. Bisa saja antrean dibuat terpisah sehingga tidak terjadi jubelan yang berdekatan sehingga saling senggol. (Achmad H)

Editor : Budi Sarmun