Peziarah Tirakatan di Makam Ki Ageng Pandanaran

wisata-ziarah-ki-ageng-pandanaran
TIRAKAT : Peziarah dari berbagai kota memenuhi pendapa makam Ki Ageng Pandanaran di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten, malam Jumat Legi (30/1).(suaramerdeksolo.com/Merawati Sunantri)

*Puncaknya Malam Jumat Legi

MAKAM Ki Ageng Pandanaran atau yang sering disebut Sunan Tembayat di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten tampak sangat ramai, Kamis (30/1) malam. Makam itu merupakan salah satu obyek wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah dari berbagai kota. Sebagian besar datang dari kota-kota di Jawa Timur.

Selain makam Walisongo, makam Sunan Tembayat dengan peninggalan Masjid Gala di Bukit Jabalkat tak jauh dari komplek makam. Setiap hari banyak peziarah datang baik rombongan dengan naik bus, atau dengan kendaraan pribadi.

Puncak kedatangan peziarah adalah pada malam Jumat Legi. Dalam sehari, jumlah pengunjung bisa mencapai seribu lebih. Sebagian hanya datang berziarah, sebagian lainnya duduk berlama-lama di pandapa makam untuk melakukan tirakatan.

Hujan yang terus turun tak menjadi halangan bagi mereka.
Perjuangan untuk mencapai makam tidaklah mudah, mereka harus menaikki ratusan anak tangga menuju puncak bukit. Di sepanjang tangga, banyak warga yang berjualan aneka cindera mata, mulai dari pakaian, souvenir, makanan dan minuman, produk UMKM hingga pernak pernik unik.

‘’Puncak kunjungan peziarah pada malam Jumat Legi, sekitar 1000 orang datang dan pergi. Sebagian hanya berziarah dan pulang, namun ada yang ditirakatan sampai Jumat pukul 02.00 WIB,’’ kata Wawan Sanuri warga Paseban, Bayat, salah satu pengurus makam.

Dahulu cukup banyak peziarah yang tirakatan di pendapa depan makam sampai pagi. Namun saat ini jumlahnya peziarah yang bermalam sudah jauh menurun. Kebanyakan dari mereka hanya berdoa sampai jam 02.00 pagi saja, kemudian pulang.

Tak semua pengunjung naik ke makam yang berada di atas bukit, sebagian yang tak kuat menaiki tangga yang demikian tinggi memilih menunggu di pendapa depan pintu gerbang. Kehadiran pengunjung makam membawa rejeki bagi masyarakat sekitar, mereka menjajakan aneka produk mulai dari makanan dan minuman, pakaian serta beraneka jenis oleh-oleh.

Menurut Ngatiyem (67) yang sudah beberapa kali berkunjung ke Makam Pandanaran, dia selalu datang bersama rombongan dengan bus. Makam tersebut merupakan salah satu tujuan, selain ke makam Walisongo di kota lain. ‘’Saya datang khusus untuk berziarah saja bersama rombongan,’’ kata dia.

Sementara itu, beberapa pengunjung menyempatkan membeli beberapa keperluan seperti bunga mawar. Mereka juga membeli oleh-oleh yang tahan lama untuk dibawa pulang. Namun, berdasarkan pengalaman, mereka harus menawar bila ingin membeli baju atau barang lain. Meski demikian, harganya cukup terjangkau.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun