Sinergi Pariwisata, Gampang Diucapkan Sulit Dilaksanakan

paparan-inflasi
PAPARAN INFLASI : Paparan inflasi Desember 2019 di kantor BPS Solo, Kamis (2/1). (suaramerdekasolo.com/Vladimir Langgeng)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Meski sudah lebih dari sepuluh tahun didengungkan, namun sinergi antar wilayah dan antar pemangku kepentingan untuk memajukan sektor pariwisata sangat sulit dilaksanakan di Soloraya. Ego sektoral masih kental sehingga pariwisata antar daerah sulit disinergikan.

Perbedaan “kue yang didapat” dari wisatawan yang berkunjung bagi masing-masing daerah menjadi salah satu persoalan sehingga mengakibatkan kecemburuan.

Baca : 5 Juta Orang, Target Kunjungan Wisatawan Solo terlampaui

“Sebab lain adalah politik anggaran yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Ada daerah memprioritaskan sektor pariwisata, ada yang tidak,” kata wakil ketua BPC Kadin Solo, Daryono, sekaligus wakil ketua Asita Jawa Tengah.

Hal itu dikatakan di sela paparan inflasi Desember 2019 oleh BPS Surakarta di kantor setempat, Kamis (2/1). Paparan juga diikuti kepala kantor perwakilam Bank Indonesia Bambang Pramono dan sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah Pemkot Surakarta.

Bambang Pramono mengatakan, masih tingginya ego sektoral menjadikan pariwisata tidak berkembang di daerah. Padahal sektor pariwisata kini menjadi unggulan pemerintah dalam mendulang pendapatan di luar sektor migas.Untuk memajukan pariwisata, kata dia, pemerintah akan membentuk lembaga seperti TPID (tim penanggulangan inflasi daerah) yang khusus mengurusi sektor tersebut. Di lembaga itu, nantinya semua OPD dan lembaga lainnya bisa masuk untuk memajukan sektor pariwisata.

Baca : Jejak Dono Warkop di Klaten, Rumah Keluarga Tidak Terurus Sejak Lama