SD Muh 1 Surakarta Budayakan Peduli Sampah Sedari Dini

sd-muhammadiyah-1-solo-peduli-sampah
PUPUK: Siswa SD Muh 1 Belajar Membuat pupuk organik cair dari sampah. (suaramerdekasolo.com/dok)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Sekolah Dasar (SD ) Muhammadiyah 1 Surakarta terus berupaya menumbuhkan sikap kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Sebab pembangunan manusia Indonesia yang berkualitas harus melalui tahapan anak usia dini.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SD Muhammadiyah 1 Ketelan SW Winarsi SPd usai kegiatan Pembiasaan Pemilahan Sampah sesuai dengan Tempat, Kamis (12/12).

“Kegiatan ini karena sebagai sekolah adiwiyata dan sekolah sehat tingkat provinsi Jawa Tengah,” katanya.

Baca : Gerakan Nasi Bungkus Jumat Berkah

Sekolah juga menggencarkan gerakan membawa air minum sendiri dalam botol, penggunaan tempat minum nonplastik, tidak menggunakan tempat minum kemasan plastik, gerakan bank sampah.

“Kami memang ingin menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungannya,” ujarnya. 

Sekolah yang berlokasi barat pura Mangkunegaran itu juga memiliki program bank sampah. Badan Usaha Milik Sekolah yang mengelolanya. Setiap Jumat, siswa membawa sampah dari rumah maupun sampah di sekolah untuk dikumpulkan di bank sampah.Win dan tim sengaja mengemas kegiatan ini seperti outdoor.

Pada dasarnya tujuan pendidikan merupakan rekayasa sosial untuk membentuk karakter.Sampah organik rumah tangga seperti sisa sayur dan buah dipotong kecil-kecil kemudian dimasukkan ke dalam komposter. 

Baca : Kodim 0735/Surakarta Gelar Acara Penerimaan Anggota Baru, Ini Maksudnya

Sri Mulyani narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta mengemukakan, untuk memproses pupuk organik cair yang perlu dilakukan adalah bioaktivator EM4 ditambahkan ke dalam sampah. Setelah beberapa hari atau minggu, komposter menghasilkan cairan sebagai hasil dari proses fermentasi. Cairan dialirkan melalui selang komposter dan ditampung dalam wadah penampungan.

“Dalam wadah penampungan, cairan ditambahkan EM4 dan disimpan selama seminggu. Hasil inilah yang dinamakan Pupuk Organik Cair (POC),”ujarnya. 

Dia berharap, siswa peduli akan sampah bukan hanya di sekolah, tetapi juga di lingkungan rumah serta lingkungan tempat dirinya berada.Sementara salah satu siswi kelas IVB Quinsha Naura mengakui dirinya sangat senang bisa belajar mengolah sampah organik dan anorganik.(Evie Kusnindya)

Baca : Naik Sepeda, Edi Onthel Kampanyekan Tertib Berlalu Lintas

Editor : Budi Sarmun