Berjuang Wujudkan Kemandirian Penyandang Disabilitas

Sri-Setyaningsih
FOTO DIRI : Sri Setyaningsih, pengusaha coklat tempe

KETERBATASAN fisik tidak menghalangi seseorang untuk bisa berdaya dan meraih apa yang mereka cita-citakan. Sri Setyaningsih adalah salah satu yang berprinsip akan hal itu.

Sri (37) merupakan penyandang tuna daksa. Namun wanita satu anak itu berhasil mewujudkan impiannya untuk mandiri secara finansial. Ia bahkan mampu mengentaskan sesama penyandang disabilitas dengan membekalinya pekerjaan sekaligus menciptakan lapangan kerja untuk mereka.

Sri sempat bekerja di salah satu pabrik garmen di Bogor selama sepuluh tahun. Lama merantau, Sri memutuskan untuk pulang ke tempat kelahirannya, di Desa Klewor, Kemusu, Kabupaten Boyolali pada 2016.

Berbekal pengalaman kerja di pabrik garmen, Sri membuka usaha jasa jahit pakaian di rumahnya. Kendati ia sudah mampu mandiri, namun perempuan itu merasa prihatin dengan kondisi para penyandang disabilitas di desanya yang hanya tinggal di rumah.

Mayoritas dari mereka tidak mendapatkan hak untuk mendapatkan pekerjaan yang layak karena tak punya ketrampilan.

Ia pun lantas berinisiatif memberikan pelatihan jahit menjahit pada penyandang disabilitas yang ada di desanya. Setelah bisa menjahit, Sri merekrut mereka menjadi penjahit untuk membantu usahanya. Biasanya, setelah beberapa waktu mereka kemudian membuka usaha sendiri.

Selain menjahit, Sri juga mengajari untuk membatik dan pengolahan makanan.Bukan tanpa kendala Sri menjalani itu. Tak sedikit keluarga penyandang disabilitas memusuhinya karena malu.

“Kalau ada anggota keluarga yang penyandang disabilitas malah dijurung, tidak boleh keluar. Ketrampilan saja tidak diajari apalagi pendidikan. Padahal mereka harusnya diajari mandiri,” katanya getir.