Sunset dan Padang Rumput Desa Boto Bikin Syahdu

wisata-tejoarum-wonogiri1
MATAHARI TENGGELAM : Pengunjung menikmati panorama matahari tenggelam di Waduk Gajahmungkur, Wana Wisata Tejoarum, Dusun Wotan, Desa Boto, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri, baru-baru ini. (suaramerdeksolo.com/Khalid Yogi)

MUSIM KEMARAU kemarau menyajikan pemandangan alam yang eksotik di area pasang-surut Waduk Gajahmungkur, Desa Boto, Kecamatan Baturetno, Kabupaten Wonogiri. Waduk yang surut memunculkan hamparan padang rumput luas. Suasana menjadi semakin syahdu ketika sunset (matahari tenggelam) dari balik Pegunungan Seribu di seberang Waduk Gajahmungkur.

Kepala Desa Boto, Edi Suroso mengungkapkan, area pasang-surut waduk di Dusun Wotan dan Tukul itu menjadi tempat wisata setiap kemarau tiba.

View-nya bagus. Banyak warga yang ngumpul. Beberapa waktu lalu, kami juga mengadakan acara di situ, seperti bersepeda keliling waduk,” katanya.

Pihaknya kemudian memberi nama Wana Wisata Tejoarum Boto. Ke depan, dia ingin agar Wana Wisata Tejoarum Boto jadi tempat wisata potensial tahunan.

Selain menyajikan pemandangan alam yang menarik. Para pengunjung bisa menyaksikan bekas-bekas perkampungan yang terendam air sejak Waduk Gajahmungkur dibangun sekitar tahun 1980 silam.

“Di sana masih ada bekas-bekas rumah perkampungan, seperti fondasi rumah, bekas sumur, bekas makam, sampai ompak (batu untuk fondasi rumah kayu),” imbuhnya.

Di sisi lain, jalan pintas dari Desa Boto (Kecamatan Baturetno) sampai Betal Lawas (Kecamatan Nguntoronadi) muncul ketika musim kemarau tiba. Jalan tersebut di masa lalu juga menghubungkan antara Baturetno, Betal, hingga Wuryantoro.