Perkumpulan Dog Meat Free Indonesia Desak Ruang Gerak Pedagang Daging Anjing Dipersempit

larangan-perdagangan-anjing
SOUVENIR – Bupati Juliyatmono menerima souvenir dari Karin Ketua Dog Meat Free Indonesia yang berterima kasih atas pelarangan tegas pada perdagangan daging anjing di Karanganyar. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

KARANGANYAR,suaramerdekasolo.com – Ruang gerak pedagang daging anjing harus dipersempit. Caranya setiap daerah harus mengeluarkan peraturan larangan menjual daging anjing, seperti Karanganyar. Jika setiap daerah sudah melarang wilayahnya untuk menjual daging anjing, maka mereka dengan sendirinya tidak punya tempat lagi.

Hal itu dikatakan Karin, dari perkumpulan Dog Meat Free Indonesia saat beraudiensi dengan Bupati Karanganyar Juliyatmono di rumah dinas bupati, Rabu (20/11) pagi. Perkumpulan ini bertekad terus mendekati para pimpinan daerah di Jateng untuk melarang wilayahnya digunakan menjual daging anjing.

‘’Kami merasa berterima kasih sekali karena Karanganyar sudah menjadi pelopor pelarangan perdagangan daging anjing. Saat ini yang sudah jelas melarang baru Karanganyar dan Bali. Lainnya meski sudah melarang namun belum berani memberi sanksi tegas seperti Karanganyar.’’

Setelah disiarkan dan menjadi viral di media massa, aksi Bupati Juliyatmono memang mendapatkan pujian dari semua pihak khususnya para pecinta binatang. Karena itu Dog Meat Free terus mendorong pimpinan daerah lain melakukan hal yang sama.

Sayang, selama ini banyak yang masih ragu dan pekewuh melarang karena pertemanan, karena persahabatan dengan pemasok daging anjing yang kadang memang sama-sama kader partai tertentu. Sehingga sungkan jika ditindak tegas.

Penyebaran Rabies

Karin yang datang dari Jakarta dengan rekannya yang dari Jogyakarta sesama pencinta binatang mengatakan, ke depan mereka akan melakukan sosialisasi pada para pecinta binatang agar lebih intensif lagi melakukan gerakan cinta binatang, khususnya anjing.

‘’Kami hanya takut itu akan menjadi penyebab penyebaran penyakit rabies karena saat makan daging anjing sisanya dibuang dan dimakan kucing. Sehingga tidak hanya anjing yang menyebarkan rabies namun juga kucing dan binatang lainnya,’’ kata Karin.

Juliyatmono mendukung langkah anggota Dog Meat Free untuk mempersempit gerak langkah para pedagang daging anjing itu dengan melarang setiap wilayah untuk tidak mengizinkan wilayahnya untuk berdagang.

‘’Tentu tidak hanya melarang namun membina, membantu alih profesi, mengawasi, dan sebagainya seperti yang kami lakukan. Sebab dengan cara itu saja ternyata masih ada yang nekat balik ke profesi lama. Dia beralasan terjebak pada hutang rentenir yang bisa dilunasi jika punya penghasilan. Dan jika jual daging anjing bisa dapat uang dengan cepat,’’ kata dia.

Bupati memaklumi. Namun untuk tetap berdagang daging anjing diminta keluar dari Karanganyar. Dan jika semua wilayah berlaku begitu, maka pedagang akan mati. Sebab tidak punya tempat lagi. Tapi apa mau ? Itu yang terus harus didesak.

Dikatakan, menjual daging yang memang dilarang semua agama, maka yakinlah tidak ada keberkahan di situ. Terbukti banyak yang datang ke dia dan juga mengeluh ke petugas Satpol PP yang mempatroli setiap hari pedagang daging anjing itu, ternyata mereka terjebak pada rentenir. Uang hasil jualan daging anjing itu tidak berkah.

Juliyatmono mengatakan, ke depan memang mengusulkan agar setelah pelarangan pedagang daging anjing, ada upaya memelihara anjing yang liar. Perlu didirikan panti asuhan anjing untuk memelihara anjing liar, agar tidak ditangkap dan disembelih serta dagingnya dijual. Juga anjing para penyayang yang sudah bosan dan dibiarkan lepas jadi anjing liar.

Bupati juga minta Dinas Peternakan untuk mensurvei populasi anjing yang ada di Karanganyar sehingga bisa dilakukan upaya pemeliharaan yang baik, baik bagi penyayang binatang maupun untuk panti anjing tersebut.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun