Di Pasar Kalipilang, Pengunjung Dimanjakan Jajanan Tradisional Tempo Dulu

pasar-kalipilang-selogiri
MENUKAR KOIN : Para pengunjung menukar koin sebelum berbelanja di Pasar Kalipilang, Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Minggu (17/11). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Sejumlah warga Desa Jaten, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri membuat sebuah pasar tradisional yang unik. Pasar tersebut menjual berbagai jajanan tradisional tempo dulu. Proses transaksi harus memakai Bahasa Jawa, panitia dan penjual mengenakan pakaian adat Jawa, sedangkan alat jual beli menggunakan koin khusus yang telah disediakan.

Kepala Dusun Jowogan, Aris Wahyu Tamtomo mengungkapkan, Pasar Kalipilang saat ini menyediakan berbagai makanan tradisional. “Ada nasi megono, soto bathok, gendar pecel, thiwul, gatot dan masih banyak makanan tradisional lainnya,” katanya, Minggu (17/11).

Pasar yang buka setiap Minggu pagi tersebut mengusung konsep tempo dulu dan kembali ke alam. Mereka meminimalisasi penggunaan plastik, menggantinya dengan dedaunan dan anyaman bambu sebagai wadah makanan.

“Seperti soto bathok, itu wadahnya pakai bathok (tempurung kelapa). Ada yang pakai gelas bambu. Meskipun ada juga yang masih pakai gelas dan piring kaca. Warung-warungnya dibangun berbahan kayu dan bambu,” terangnya.

Para pembeli harus menukar uangnya dengan koin terlebih dahulu. Panitia menyediakan tiga macam koin. Yakni Rp 1.000 untuk koin satu sen, Rp 2.000 untuk koin dua sen, dan Rp 5.000 untuk koin tiga sen.

Dengan cara itu, perputaran uang bisa dikontrol.

“Sejak dibuka enam pekan lalu, perputaran uangnya naik terus. Pertama kali, perputarannya hanya Rp 4 juta. Minggu kemarin sudah sampai Rp 12 juta per hari,” ujarnya.

Pererat Silaturahmi

Dudik Yulianto, konseptor Pasar Kalipilang mengungkapkan, pasar tersebut dibangun bersama para tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

“Semua masyarakat kompak membantu. Ada Pakde Hartanto, ada Lik Riyadi dan para tokoh masyarakat lainnya yang berperan besar membangun Pasar Kalipilang,” katanya.

Idenya muncul karena banyaknya warga yang merantau, sehingga sangat sedikit acara di kampung tersebut. Oleh karenanya, Pasar Kalipilang diadakan untuk mempererat silaturahmi, memberdayakan ekonomi masyarakat dan menarik kembali warga yang merantau.

Jumlah pedagang saat ini berkisar 25 orang. Pasar rencananya dikembangkan dengan membuat taman bermain anak hingga wahana memberi pakan ternak.

“Kami ingin menciptakan suasana pasar tempo dulu. Nanti ada pandai besinya, ada tukang cukurnya, anak-anak bisa memberi makan kambing dan kelinci. Ke depan, kami ingin menjadikan kampung wisata,” imbuhnya.

Pejabat Sementara (Pjs) kepala Desa Jaten Toto Tri Mularto mengatakan, Pasar Kalipilang menggali potensi dengan memunculkan makanan asli masyarakat pedesaan. Konsep suasana pedesaan sangat kental. Pengunjung dapat menikmati jajanan tradisional sambil lesehan di pasar tersebut. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun