Petani Jatipuro Ubah Limbah Singkong Jadi Nata de Cassava dan Biostrater Kompos

pembuatan-nata-de-cassava
BERIKAN BIMBINGAN : Tim pengabdian Fakultas Pertanian UNS memberikan bimbingan pembuatan nata de cassava dari limbah singkong pada masyarakat Jatipuro. (suaramerdekasolo.com/dok)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Limbah dari sisa hasil olahan singkong selama ini belum banyak dipikirkan. Padahal sesungguhnya aneka bentuk limbah singkong yang dihasilkan masih mengandung “value” berharga untuk dimanfaatkan.

Apalagi jika wilayah tersebut merupakan penghasil singkong yang diolah menjadi (modified cassava fluor), keripik dan ceriping singkong.

Berawal dari kondisi tersebut, tim pengabdian dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) yang digawangi Prof Dr Vita Ratri Cahyani mendampingi masyarakat di Kecamatan Jatupuro, Kabupaten Karanganyar untuk memanfaatkan limbah singkong.

“Petani di Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar dikenal ulet dalam upaya meningkatkan nilai tambah singkong.

Namun selama ini belum ada pemikiran untuk memanfaatkan limbah dari proses produksi tersebut, ” kata Prof Vita.

Ia mengemukakan, limbah singkong di tempat itu sebenarnya bisa diolah menjadi produk pangan alternatif seerti halnya “nata de cassava” dan menjadi “biostarter kompos”. Kedua proses emanfaatan tersebut dirancang oleh Tim Pengabdian UNS dalam upaya transfer teknologi kepada masyarakat petani.

Dikemukakan, hal pertama dalam teknologi yang ditransfer kepada masyarakat ini adalah pemanfaatan limbah singkong, baik limbah berupa kulit bagian dalam singkong yang tebal dan berwarna putih, limbah cair dari pembuatan mocaf ataupun limbah cair pembuatan keripik dan ceriping singkong untuk dibuat nata de cassava. Nata dikenal sebagai kolang kaling sintetis.

Secara biokimia, nata rantaian selulosa yang dihasilkan oleh bakteri Acetobacter xylinum dalam proses asimilasi pengubahan gula glukosa menjadi senyawa karbohidrat yang kompleks. Aneka nata yang sudah popular diberi nama sesuai sumber bahannya, nata de coco terbuat dari air kelapa, nata de pina terbuat dari nanas, nata de soyae terbuat dari limbah cair tahu, dan nata de cassava terbuat dari singkong.

Dikemukakan, proses pemanfaatan limbah ini prosesnya tidak rumit namun perlu hati hati karena fermentasi dari limbah singkong menjadi nata harua higinis. Nilao jualnya pun masih sangat lumayan.

“Untuk biaya pembuatan hanya butuh biaya kurang dari 3.000/ liter sementara jika dijual laku Rp 30.000/liternya,. Jadi bisa untuk tambahan masyarakat, ” katanya. Adapun untuk pembuatan biostarter kompos , tim bermaksud membantu masyarakat petani dalam mencukupi kebutuhan pupuk organik.

“Jadi untuk keperluan siklus budidaya pertanian per masing-masing keluarga petani, belum pada tahap produksi biostarter komersial,” papar anggota tim
Dr Ir Rofandi Hartanto.(Evie Kusnindya)

Editor : Budi Sarmun