Kasus Perceraian di Sragen Tertinggi di Solo Raya, Masalah Ekonomi Faktor Terbesar

kasus-perceraian
FOTO ILUSTRASI

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Masalah ekonomi di dalam keluarga jadi faktor terbesar penyebab perceraian di Sragen.

Dibandingkan kabupaten dan kota lain yang ada di wilayah eks Karesidenan Surakarta, angka perceraian di Bumi Sukowati termasuk tertinggi. Hingga akhir Oktober lalu, setidaknya sudah lebih dari 2.000 kasus perceraian yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Sragen.

Berdasarkan data yang dihimpun dari PA Kelas 1A Sragen, periode Januari-Oktober terdapat 1.426 cerai gugat atau permohonan atas permintaan dari pihak perempuan. Sedangakan cerai talak 639 permohonan. Sehingga berkas perceraian selama 10 bulan terakhir yakni 2.065 kasus dan jumlah ini masih terus bertambah hingga akhir tahun.

Panitera PA Sragen Ahmad Fuad Agustani menyampaikan angka perceraian di Kabupaten Sragen tertinggi di wilayah eks Karesidenan Surakarta.

“Dari tujuh kabupaten dan kota yang ada di Solo Rayam Sragen tertinggi dan Solo menjadi yang terendah. Tahun ini tercatat dua ribuan kasus sampai Oktober,” kata Ahmad, pada Senin (11/11).

Dari 2.065 kasus hingga akhir Oktober lalu, memang lebih didominasi cerai gugat atau permohonan atas permintaan dari pihak perempuan.

Jika dirata-rata setiap hari selama 2019 ini, setidaknya ada enam sampai tujuh pasangan warga Kabupaten Sragen bercerai. Menurut faktor tetinggi perceraian memang ekonomi. Faktor lainnya karena pasangan selingkuh dan cemburu.

“Penanganan yang ada sudah 70 persen, yang 30 persen masih berjalan,” tandas Agus.

Faktor terbesar penyebab alasan perceraian adalah ekonomi menyumbang 36 persen perkara, perselingkuhan 17 persen, kemudian lain-lain seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan faktor cemburu.

“Fakta lain kebanyakan pasangan yang mengajukan gugatan cerai malah dari pedesaan. Sementara dari wilayah kota jauh lebih sedikit,” tegasnya.

Perselingkuhan

Sementara Wakil Ketua PA Sragen Muhdi Kholil mengatakan, tingginya angka perceraian ini berbanding lurus dengan jumlah pernikahan di Sragen. Dia mengakui faktor terbesar pengajuan cerai adalah ekonomi. Namun tidak saja ekonomi yang kurang sebagai pemicu, ekonomi berlebih juga menjadi pendukung, karena itu lalu ada perselingkuhan dan sebagainya.

”Faktor selingkuh ada juga tapi yang banyak ekonomi, kurang nafkah, kalau mereka yang ekonomi berlebih biasanya mengajukan dengan alasan karena pasangannya selingkuh,” tuturnya.

Terpisah, Ketua Kelompok Kerja Penghulu (Pokjahulu) Sragen Muhammad Fadlan menyampaikaan tingginya tingkat perceraian bisa karena berbagai sebab. Diantaranya seperti pernikahan usia dini yang menyebabkan suami isteri tidak siap menghadapi problematika rumah tangga. Selain juga faktor ekonomi karena tidak stabilnya kondisi ekonomi.

”Selain itu juga termasuk faktor ditinggal merantau pasangannya untuk bekerja. Lama ditinggal pasangannya juga bisa menjadi penyebab,” tuturnya saat ditemui terpisah.

Fadlan yang juga Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sragen ini mengungkapkan, faktor internal keluarga yang bercerai juga karena mereka tidak bisa mengatasi problem rumah tangga. Dalam menikah tidak memiliki keahlian mengatasi masalah rumah tangga.

”Tapi proses cerai di pengadilan itu bukan berarti tidak baik, namun bisa jadi itu memecahkan masalah untuk mereka,” tandasnya. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun