Kiprah Pemuda Ngemplak Boyolali : Dari Hobi Mengalir Rupiah, Buat Pesawat RC

replika-hercules5

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Hobi ternyata bisa menjadi lahan usaha menghasilkan rupiah. Seperti dilakukan Pungki Sasando (23) warga Desa Gagaksipat, Kecamatan Ngemplak bersama temannya, Deni Kurniawan (25), asal Desa Kismoyoso, Ngemplak.

Keduanya bersama- sama membuat pesawat aeromodelling. Pesawat bisa diterbangkan dengan remote control (RC). Harga, dia mengaku berkisar Rp 600 ribu jika hanya pesawatnya saja. Jika komplit berikut remote control, harganya Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.

Pesawat yang dibuatnya, rata-rata memiliki bentang sayap 120 centimeter. Namun belum lama ini dia juga membuat pesawat Hercules dengan bentang sayap 3 meter. Bahkan, saat ini dirinya sedang mempersiapkan proyek pesawat Airbus dengan bentang sayap 4 meter.

Pembuatan satu buah pesawat rata- rata bisa diselesaikan dalam tempo sebulan. Pesawat bisa mampu mengudara 25 menit dengan tenaga baterai penuh. Namun jika angin bertiup kencang, maka lama mengudara pun berkurang.

Dari kecintaannya pada dunia kedirgantaraan ini, Ando, nama panggilan Sasando, juga berhasil menyabet sejumlah juara dalam lomba bidang aeromodelling. Selain itu kini telah menghasilkan pundi-pundi uang yang menjadi lahan usahanya.

Dia mengaku mencintai dunia kedirgantaraan sejak kecil. Dia suka melihat pesawat terbang di bandara Adi Soemarmo, Boyolali yang kebetulan berada tidak jauh dari rumahnya. Dia juga sering melihat komunitas aeromodelling di kawasan bandara tersebut.

“Memang berawal dari hobi, dulu saya suka melihat pesawat terbang di bandara. Saya terheran-heran, mengapa pesawat sebesar itu bisa terbang,” ujar pemuda kelahiran 3 Juni 1996 ini.

Dia pun lalu bertekad bisa membuat pesawat aeromodelling. Dia belajar dari internet, majalah hingga buku pelajaran SD. Termasuk belajar cara membuat pesawat dari buku prakarya bagi siswa SD yang juga membahas membuat model pesawat terbang.

“Awalnya membuat miniatur pesawat dari stereofoam. Namun kemudian mencoba membuat pesawat yang bisa diterbangkan.”

Sempat Gagal

Diakui juga, pembuatan pesawat RC itu tak langsung jadi alias sempat gagal. Dia mulai membuat pesawat tersebut di akhir tahun 2017, meskipun sudah belajar tentang pesawat ini sejak tahun 2011.

“Sempat gagal dan frustasi ada, karena yang saya buat juga banyak tapi tidak berhasil.”

Namun dia mencoba bangkit dan terus termotivasi. Apalagi dukungan dari teman-temannya serta komunitas aeromodelling terus berdatangan. Akhirnya, kesalahan bisa diketahui dan diperbaiki hingga berhasil membuat pesawat aeromodelling idaman.

Ando dan Deni menggunakan bahan stereofoam, kayu lapis dan busa. Sebagian bahan-bahan itu pun merupakan barang bekas. Namun ada juga barang yang dibeli pabrikan, khususnya untuk alat elektroniknya.

Sedangkan model pesawat yang dibuatnya yakni jenisnya aerobatik, trainer dan jet. Pemasarannya, melalui media sosial (medsos). Dia memposting karyanya tersebut di media sosial. Paling jauh, pembeli dari Timika, Papua.

“Ada juga pemesan dari Depok, Jabar berupa pesawat trainer dengan bentang sayap 2 meter. Ini mungkin jalan rezeki saya.” (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun