Ajak Generasi Muda Memakmurkan Masjid melalui Kang Maljum

kajian-gayeng-malam-jumat
KAJIAN: Kajian Gayeng Malam Jumat (Kang Maljum) yang digelar untuk mengajak generasi muda memakmurkan masjid. (suaramerdekasolo.com/Evie Kusnindya)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Berawal dari keprihatinan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kota Solo terhadap menurunnya minat anak-anak muda untuk meramaikan masjid, komunitas Kang Maljum ini terbentuk.

Zaki Setiawan, penggagas Kang Maljum mengemukakan, Kang Maljum adalah akronim dari Kajian Gayeng Malam Jumat. Pemilihan jadwal kajian tiap malam Jumat berdasarkan tradisi bahwa AMM Solo sejak dulu melaksanakan kegiatan rutin tiap malam Jumat.

Dikemukakan, majelis taklim ini menyasar anak-anak muda milenial dari semua latar belakang.

“Kami mencoba cara-cara sederhana yang penting anal-anak muda ini tidak canggung beraktivitas di masjid sesuai dunia mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa saat ini perlu inovasi dari aktivis masjid untuk menarik jamaah terutama kaum muda supaya mau memakmurkan masjid.

Baca : Sembilan Tahun Silam, 26 Oktober 2010, Gunung Merapi Meletus

“Kami ingin mengajak kaum milenial memakmurkan masjid. Salah satu caranya dengan memberi ruang mereka untuk berekspresi dan sesuaikan model-model kajian serta tema yang selalu up to date terhadap perkembangan zaman,” paparnya.

Kajian rutin tersebut menurutnya terbuka bagi semua kalangan terutama anak-anak muda dan dilaksanakan secara serius tapi santai. Setiap kajian akan disiarkan secara live di akun Instagram @kangmaljum.

Komunitas kajian Islam ini berbasis di Masjid Balai Muhammadiyah, komplek gedung dakwah Balai Muhammadiyah Solo, Jl. Teuku Umar No. 5 Keprabon.

Sentra Dakwah

Zaki memaparkan, AMM Solo sering mendengar cerita tentang kejayaan masjid di era awal kemerdekaan sampai era akhir 1980-an. Waktu itu masjid Balai Muhammadiyah sebagai sentra dakwah Islam menjadi pionir dari kegiatan yang populer dengan istilah Kuliah Subuh.

Bahkan, masjid Balai Muhammadiyah menjadi rumah besar umat Islam di Solo.
Menurut Kiai Subari, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surakarta
Kuliah Subuh kemudian diadopsi oleh Buya Hamka untuk dilaksanakan di Masjid Al-Azhar, Jakarta.

Baca : Pendidikan di Vietnam Peringkat Tiga Dunia, Indonesia Posisi Berapa ?

Oleh sebab itu, AMM Solo berinisiatif untuk mengembalikan ruh masjid Balai Muhammadiyah sebagai rumah besar umat Islam dengan model dakwah yang menggembirakan dan mencerahkan. Majelis taklim yang diberi nama KANG MALJUM merupakan bagian dari upaya tersebut.

Zaki mengatakan, tagline yang diangkat yaitu “Tinimbang Thenguk-Thenguk Crita Luwih Becik Thenguk-Thenguk Ngaji (daripada nongkrong sambil mengobrol lebih baik nongkrong sambil mengaji). Kajian tersebut dibangun dalam nuansa santai, lesehan di halaman masjid, semua setara tanpa jarak antara ustaz yang mengisi kajian dengan peserta.

Suasana semakin gayeng dengan disuguhkannya makanan tradisional, seperti kacang rebus, ketela rebus, dan pisang rebus. Apalagi ditambah dengan hadirnya wedang jahe, bajigur, dan teh nasgitel sebagai ikon wedangan selalu tidak lupa dihadirkan di Kang Maljum.(Evie Kusnindya)

Baca : Naik Sepeda, Edi Onthel Kampanyekan Tertib Berlalu Lintas

Editor : Budi Sarmun