Naik Sepeda, Edi Onthel Kampanyekan Tertib Berlalu Lintas

jelajah-nusantara-naik-onthel
JELAJAH NUSANTARA : Edi Ontel saat berpose di depan sepadanya di jalan Slamet Riyadi Solo Minggu (3/11). (suaramerdekasolo.com/Ari Purnomo Apl)

SOLO,suaramerdekasolo.com – Namanya Edi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Edi Onthel. Usianya sudah menginjak 55 tahun. Edi merupakan warga Desa Purwaraja, Kikim Timur, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Di usia yang sudah menua, Edi ingin berbuat sesuatu untuk negeri. Kemudian tercetus untuk ikut mengkampanyekan tertib berlalu lintas. Tetapi, Edi tidak sekadar melakukan kampanye di satu daerah. Tetapi, Edi juga berkeliling Indonesia hanya untuk mengajak masyarakat tertib berlalu lintas.

Bermodalkan sebuah sepeda tua peninggalan sang nenek, Edi menjelajah dari satu daerah ke daerah yang lain. Sepeda yang beberapa bagiannya sudah berkarat itu diketahui jenis Norton, lansiran tahun 1942. Warnanya memang sudah pudar, tetapi Edi begitu menyukai sepeda itu.

Untuk melakukan penjelajahan, Edi banyak membawa bekal. Diantaranya, makanan, pakaian, perlengkapan kunci, ban serep, karpet dan perlengkapan lainnya.

 “Saya menjelajah dari satu kota ke kota yang lainnya. Saya selalu mengajak masyarakat untuk tertib berlalu lintas. Meskipun hanya menggunakan sepeda, kita bisa tertib berlalu lintas,” ungkapnya saat ditemui d CFD Solo, Minggu (3/11) pagi. 

Menurutnya, selama ini masih banyak pengendara yang tidak tertib berlalu lintas. Maka dari itu, Edi pun terus mengajak seluruh pengendara agar tertib berlalu lintas.

“Perjalanan sudah saya mulai pada 1 Oktober lalu dari rumah saya. Kemudian menuju Palembang dan masuk ke Pulau Jawa. Nanti akan dilanjut ke Jogjakarta, lalu berangkat ke Surabaya,” urainya. 

Untuk finisnya, Edi mengatakan nantinya sampai di Raja Ampat. Setelah itu dirinya akan balik ke timur melewati Aceh. Lalu menuju ke nol kilometer Sabang dan kembali ke Lahat.

“Untuk perjalanan membutuhkan waktu lebih kurang 10 bulan sampai 12 bulan. Sehari rata-rata berkendara selama 10 jam. Kemudian beristirahat satu, dua jam. Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan,” ucapnya. 

Untuk perjalanan yang cukup jauh ini, Edi hanya membawa uang sebesar Rp 500 ribu. Kadang ada juga bantuan dari komunitas sepeda onthel yang ditemuinya. Selama melakukan perjalanan, Edi pernah mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan. Dirinya menjadi korban perampokan dan uang Rp 300 ribu miliknya diambil perampok. (Ari Purnomo Apl)

Editor : Budi Sarmun