Jalan-jalan Ke Surabaya, Sulitnya Melihat Sampah Di Kota Pahlawan

sampah-kota-surabaya
BERSIH – Sudut jkota Surabaya Jl Sidotopo yang dulu dikenal kumuh, kini tampak indah dengan hiasan pot di tengah median jalan. Itu semua bisa dijumai di semua jalan di Surabaya. (suaramerdekasolo.com/Joko DH)

DUA kali Bu Risma memimpin kota Pahlawan Surabaya sungguh membuat kagum. Taman-taman kota tertata rapi dan indah, jalan-jalan bersih. Bahkan bisa dibilang betapa susahnya melihat sampah berceceran di kota itu, di jalanan, bahkan termasuk di pasar. Semua seakan sudah menyadari betapa kebersihan itu merupakan gaya hidup, tak sekadar hiasan bibir saja.

Saat menggantikan Sukri Erfan Kusuma sebagai Kadis Kebersihan di zaman kepemimpinan Wali Kota Sunarto Sumoprawiro, Risma memang sudah mulai moncer. Dia sangat paham kebutuhan bersih itu untuk diterapkan di kota itu.

Sejak kasus gagal membeli incenerator sebesar Rp 33 miliar saat kepemimpinan Wali Kota Purnomo Kasidi, yang ternyata alat semahal itu tidak bisa tuntas menggiling sampah menjadi pupuk, Risma sudah paham. Untuk menjadikan Surabaya bersih bukan dengan alat namun dengan memberdayakan masyarakat.

Masyarakat Surabaya harus diajak aktif hidup bersih, membuang sampah tidak sembarangan saja. Taman-taman kota harus menjadi contoh keindahan dan hijau agar masyarakat betah di sana dengan keluarga, meski hanya duduk-duduk saja.

Selalu Terdepan

Maka saat menjadi Kepala Bappeda yang merencanakan pembangunan kota, Risma semakin melejit dengan pembangunan Surabaya bersih. Dia berhasil menyusun master plan kota yang indah, di zaman kepemimpinan Bambang DH.

Dan tentu saja seperti blessing in disguise, Risma terpilih menjadi wali kota. Maka semua yang sudah dirancang berdasarkan pengalamannya saat menjadi kepala dinas, semua seakan tinggal dituangkan saja. Maka dia selalu menjadi yang terdepan memimpin saat ada banjir, taman kota yang kumuh, dan lainnya.

Maka jadilah Kota Surabaya, yang dulu memang sudah gencar memulai menjadi kota terdepan untuk selalu tampil bersih, menjadi benar-benar kota idaman. Boleh saja orang beranggapan Surabaya panas, namun melihat keindahan dan hijaunya taman, serta bersihnya kota, maka hati menjadi dingin.

Sekarang ini boleh dibilang kebersihan sudah menjadi darah daging warga. Naik bus kota, cukup membayar dengan sampah plastik beks air minum kemasan yang seukuran botil 600 CC itu dua biji. Pasukan kuning yang sudah tenar sejak zaman Purnomo asidi ditambah, dan kini tiada hari tanpa melihat mereka diam. Mesti selalu rajin menyapu jalan.

Boleh dibilang merekalah ujung tombak untuk menciptakan Surabaya bersih. Ditambah dengan gaya hidup warga yang bersih untuk menciptakan lingkungannya yang bersih dan asri untuk kepentingan mereka sendiri.

Sudah menjadi kebiasaan jika masyarakat melihat Risma marah-marah karena menyaksikan lingkungan dan taman kota tidak menjadi asri. Pejabat harus menjadi contoh terdepan dalam hal bersih. Jangan sampai masyarakat disuruh bersih pejabatnya seenaknya sendiri.

Jangan main-main dengan kebersihan. Risma pernah marah besar saat Taman Bungkul rusak dipakai kegiatan salah satu perusahaan. Dia semprot habis-habisan panitia kegiatan itu. Dan tentu disuruh memperbaiki taman yang rusak seperti sedia kala.

Kabid Informasi dan Komunikasi Diskominfo Karanganyar ,  Ardiansyah yang memimpin kunjungan singkat tim wartawan Karanganyar ke Surabaya mengakui jika Surabaya sudah berubah rupa menjadi kota bersih.

‘’Memang mengagumkan, dan harus diakui kalau kebersihan kota bisa menjadi contoh kota lainnya, termasuk Karanganyar. Kalau Risma sudah memulai sejak jadi kadis Kebersihan pada tahun 2000-an, wajar waktunya sudah 19 tahun mendidik masyarakat,’’ kata dia.

Karena itu jika masyarakat Karanganyar mau meniru Surabaya agar bersih, maka mereka harus bisa berdaya dan menjadikan kebersihan sebagai gaya hidup. Bupati Juliyatmono sudah mulai menata kota, taman, gedung, maka tinggal masyarakat mengikuti menjaga kebersihan.

Dan semua aparatur pemerintah harus menjadi vcontoh terdepan dalam budaya bersih itu, agar masyarakat meniru dan bisa mengambil contoh pola hidup bersih itu. Dengan demikian, mewujudkan Karanganyar bersih, insya Allah bisa terwujud. Seperti Risma mewujudkan Surabaya bersih.(Joko DH)

Editor : Budi Sarmun