Cerdas dan Kreatif, Sekam Rp 3.000 Disulap Jadi Arang Rp 120.000

arang-sekam-klaten
ARANG SEKAM : Sri Widodo dengan arang sekam produknya dan tanaman yang menggunakan media tanah dicampur arang sekam.(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KEPEDULIAN Sri Widodo (40) pada lingkungan di sekitarnya, ternyata mendatangkan jalan rejeki baru. Warga Dukuh Karang Kulon, Desa Bero, Kecamatan Trucuk, Klaten itu berhasil mengolah limbah sekam padi dengan teknologi sederhana menjadi arang sekam yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan banyak dicari.

Ide itu muncul sekitar 2 tahun silam, saat dirinya bergabung dalam gerakan bersih-bersih bersama Sekolah Sungai Klaten. Dia sering mengikuti kegiatan di sungai dan melihat banyak limbah sekam yang dibuang di sungai sehingga mengotori sungai dan menjadi sedimen.

‘’Waktu itu, sayasering ikut kegiatan sekolah sungai. Saya lihat orang buang-buang sekam pagi di sungai, ya saya ambil saja. Saya bawa pulang dan saya coba olah menjadi arang sekam yang bisa dijual,’’ kata Sri Widodo yang kini mengelola Yoso Farm di Trucuk.

Mengolah sekam tidak bisa dilakukan dengan membakar sekam pagi begitu saja. Untuk membuat arang, Sri Wododo membuat semacam cerobong yang dilubangi dengan paku sebagai jalan masuk api.

Di bawahnya diberi sabut kelapa kering untuk memudahkan pembakaran. Tidak perlu banyak-banyak, cukup dari 1 atau 2 butir kelapa saja.

Di bagian bawah sabut kelapa ditempatkan satu batu bata agar ada udara yang masuk untuk keperluan pembakaran. Langkah pertama, sabut kelapa disulut dengan api, setelah menjadi bara maka bagian atasnya dituangi dengan limbah sekam padi. Namun tidak banyak-banyak, baru setelah sekam terbakar ditambah lagi.

Komunitas Omah Ijo

‘’Memang butuh kecermatan agar sekam tidak menjadi abu, karena abu sekam tidak laku dijual. Kalau arang sekam bisa untuk komposisi media tanam. Dengan menggunakan arang sekam tanah tidak bantat. Kalau tidak salah ada unsur kalium sehingga lama-lama setelah berproses dengan tanah menjadi pupuk. Tanah tidak bantat sehingga pertumbuhan akar lebih baik,’’ ujar Sri Widodo.

Saat ini, produksi arang sekamnya sudah dipasarkan ke sejumlah pedagang tanaman di Klaten. Ada satu pedagang yang disuplai hingga 1000 zak sebulan. Ada pula yang dibeli perorangan untuk kebun pribadi. Kebanyakan digunakan untuk campuran media tanam bagi sayuran, namun bagus juga untuk tanaman buah.

Dengan banyaknya permintaan, maka dia membutuhkan pasokan limbah sekam. Saat ini, bila ada orang yang membuang sekam di pinggir sawah atau pinggir sungai akan diambil untuk diolah. Namun bila tidak ada, maka dia akan membeli sekam dari penggilingan padi.

Harganya bisa dibilang sangat murah, hanya Rp 3.000 sekarung.

‘’Kalau saya beli sekam di penggilingan padi, harganya Rp 3.000 per karung. Tapi setelah diolah menjadi arang, bisa menjadi Rp 120.000 sampai Rp 150.000 perkarung. Biasanya, arang sekam dipasarkan dengan harga Rp 5.000 untuk satu zak kecil yang mudah dibawa,’’ kata Sri Widodo yang juga aktif di Komunitas Omah Ijo yang sering melakukan penghijauan di Merapi, Merbagu dan bantaran sungai.

Aktivis Sekolah Sungai Klaten Arif Fuad Hidayah mengatakan, apa yang dilakukan Sri Widodo sangat menginspirasi, karena mengubah barang yang tak berguna menjadi barang yang punya nilai ekonomi tinggi.

‘’Sangat inspiratif, dia memunguti limbah yang mengotori sungai dan mengolah menjadi barang yang laku dijual. Mengatasi masalah dan hasilnya luar biasa justru bisa menambah kesejahteraan. Sekarang sudah berproduksi dengan rutin,’’ ujar Arif.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun