Margono, Tulis 13 Buku Berkisah Perjalannya Sejak Muda

DIUSIANYA yang tak lagi muda Margono masih terlihat enerjik dan bersemangat. Dibalik baju krem yang mulai menguning Wahono menunjukan 13 buku catatan perjalanannya serta surat-surat perjalanan.

Pria kelahiaran 1945 ini mengaku memulai perjalanan ketika usianya 19 tahun. Kala itu dirinya hanya melakukan touring didaerah terdekat seperti Jogjakarta. Lalu pada 1971 ia membulatkan tekad melancong ke Jakarta.

“Tahun 1971 saya coba pakai sepeda onthel Jengki ke Jakarta tanpa berbekal uang. Dan Wahono hanya memerlukan waktu dua hari dua malam untuk mencapai Jakarta. Dari situ ide muncul. Saya punya cita-cita bagaimana bisa tahu rupa dan seluk beluk Indonesia tanpa keluar biaya,l dan saya sudah punya bekal bisa pijet,”katanya.

Setelah berhasil ke Jakarta Wahono kemudian mulai perjalanan di daerah Jawa, Madura dan Bali. Warga Kelurahan/Kecamatan/ Kabupaten Sukoharjo ini kemudian melanjutkan ke perjalan sampai ke Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Papua.

Bekal yang dibawanya hanya peta Indonesia, buku tulis, surat perjalanan, peralatan mandi dan beberapa setelan baju. Wahono sendiri berinisiatif untuk mengarsipkan setiap perjalanannya dengan meminta cap tiap daerah yang dikunjunginya.

“Saya kini memiliki 13 buku dan beberapa akta perjalanan sebagai arsip perjalanan saya keliling Indonesia. Dari 13 buku ada enam buku yang dibawa teman saya,” ungkapnya.

Catatan perjalanan tersebut ditulis tangan dan lengkap dengan cap milik pejabat pemerintah didaerah tersebut. Meski telah terlihat rapuh dan lusuh setiap catatan masih terbaca dan tersusun rapi.

Cap dari lembaga yang dikunjungi seperti dari Militer, Dinas Sosial, kantor kecamatan, Resos Kepolisian Gorontalo Sulawesi pada 1975, cap Kades Silanga Sulawesi Tengah 1975 dan lainnya.

“Kalau di kota di luar Jawa sepeda saya jual dan memilih jalan kaki. Baru kalau lanjut perjalanan saya beli sepeda lagi. Saya gak khawatir kekurangan uang. Dengan bekal bisa mijit saya bisa keliling Indonesia,” katanya.

Keliling Indonesia

Wahonk mengaku bekal sakunya hanya dibawa secukupnya. Dan uang saku pertamanya didapat dari Bupati Sukoharjo 1975 Sadikin Budikusumo senilai Rp 15 rupiah. Lalu setiap daerah yang dikunjunginya dia memperoleh saku Rp 20 rupiah.

“Perjalanan yang paling susah itu di Kalimantan Tengah ketika lewat dari Pangkalanbun (Kateng) menuju Nanga Tayap Kalbar. Karena tidak ada uang untuk naik kapal, saya terobos hutan dan makannya hanya pisang, apel, kelapa dan buah-buahan. Ketika lewat rawa-rawa itu kaki sudah banyak pacetnya,” ungkapnya.

Wahono mengaku tidak hanya pengalaman yang didapatnya, namun, juga rupa Indonesia. Wahono mengatakan jika peradaba ditiap daerah berbeda. Dan masing-masing daerah memiliki nilai sendiri. Dengan menjunjung itu Wahono mengaku bisa membaur dengan suku manapun.

“Prinsipnya dimana bumi dipinjak disitu langit dijunjung. Di Papua para pendeta yang membantu perjalanan saya. Tak berbeda jauh di Jawa yang mayoritas Islam dan di pulau lain. Tanpa menilik apa agamanya, mereka menganggap saya saudara,” imbuhnya.

Wahono telah merampungkan ekspedisi keliling Indonesia pada 2008 lalu. Kini Wahono tinggal bersama istrinya Saparinah dan putrinya Puji Dewi Gede Ayu Rinjani di Sukoharjo. Dirinya juga masih konsisten bersepeda onthel area Solo Raya.(Herus Susilo)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini