Dewan Riset Nasional Tertarik Cafe Sawah Jomboran, Dijadikan Percontohan Nasional

272
kafe-sawah-jomboran
DEWAN RISET : Dewan Riset Nasional melakukan kunjungan ke Cafe Sawah Desa Jomboran, Klaten Tengah, Selasa (8/10).(suaramerdekasolo.com/Merawati Sunantri)

KLATEN,suaramerdekasolo.com – Komisi Teknis Lingkungan dan Kebencanaan Dewan Riset Nasional (DRN) melakukan kunjungan Cafe Sawah Desa Jomboran, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Selasa (8/10). Mereka ingin Cafe Sawah yang dikelola BUMDes Bodronoyo yang semua merupakan kawasan kumuh.

Ada yang dilakukan Desa Jomboran tersebut menjadi salah satu contoh nyata upaya membangun bangsa yang tangguh melalui program mitigasi bencana, yang dipadukan dengan pengelolaan lingkungan dan memperhatikan masalah ‘’perut’’.

“Yang kami dengan, Cafe Sawah ini dulu kawasan kumuh penuh dengan sampah, kini sudah diubah menjadi cafe yang bagusnya lagi dikelola BUMDes. Selama ini, banyak program dilakukan tapi sering tidak suistainable karena melupakan masalah itu (perut),’’ kata Harkunti Pertiwi Rahayu, Ketua Komisi Teknik Lingkungan dan Kebencanaan DRN.

Menurut Harkunti yang juga Ketua Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Cafe Sawah menjadi contoh yang bagus karena saat ini banyak orang yang butuh ketenangan dan makan di luar. Dia terkesan dengan suasana dan penataan cafe dengan bangunan gazebo bambu, taman dan pepohonan rindang.

‘’Kunjungan kami dalam rangka menyusun rencana strategis untuk membangun bangsa yang tangguh bencana. Selain melakukan riset dan diskusi program, kami juga ingin melihat contoh baik yang sudah dilakukan di lapangan, seperti di Kali Code Yogyakarta dan Desa Jomboran,’’ ujar Harkunti.

Pemberdayaan Ekonomi

Rombongan DRN terdiri atas Ketua Komisi Teknis (Komtek)Lingkungan dan Kebencanaan, Ir Harkunti Pertiwi Rahayu, PhD, Prof Sudharto P Hadi Ph D (Wakil Ketua DRN, Dr Andi Eka Sakya, M.Eng (Sekretaris DRN), Ketua Klinik Lingkungan dan Mitigasi Bencana UGM Prof Dr Suratman MSc, Pakar Gunung Berapi Dr Surono dan tim asisen Damayanti Sarodja PhD.

‘’Sebelumnya, kami mengunjungi Kali Code untuk melihat bagaiamana peran masyarakat merubah sungai menjadi bersih bahkan warga bisa berjualan tanaman dan menyediakan home stay bagi pengunjung. Cafe Sawah juga bisa mengubah kawasan kumuh menjadi cafe yang nyaman dan bagusnya lagi dikelola BUMDes,’’ tegas dia.

Menurutnya, Cafe Sawah menjadi contoh, salah satu isu menarik yang nantinya bisa diangkat menjadi program di seluruh Indonesia. Rombongan ditemui Kades Jomboran Agung Widowo, para relawan peduli sungai, dan tamu undangan lainnya.

Prof Suratman menambahkan, Cafe Sawah menjadi contoh riil perpaduan upaya mitigasi bencana, pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi melalui BUMDes. Dengan kreatifitas dan inovasi yang dilakukan, Cafe Sawah menjadi tujuan kuliner yang cukup diperhitungkan di Klaten.

‘’Semua ini diawali dengan gerakan pentahelix peduli sungai, masyarakat, relawan dan berbagai komponen terkait mau bahu membahu melakukan pembesihan kawasan kumuh dan kemudian dengan kreatifitas dan inovasi bisa melahirkan cafe yang bagus,’’ ujar Prof Ratman.(Merawati Sunantri)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini