Rutan Wonogiri Libatkan 17 Napi, Sulap Lahan Tidur Jadi Agriwisata,

rutan-wonogiri
AGRIWISATA : Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Wonogiri, Urip Dharma Yoga beserta sejumlah pejabat Rutan meninjau lahan perkebunan yang diolah menjadi agribisnis dan agriwisata, Senin (7/10). (suaramerdekasolo.com/Khalid Yogi)

WONOGIRI,suaramerdekasolo.com – Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Wonogiri berhasil mengolah lahan yang semula terbengkalai menjadi produktif. Bahkan, mereka kini mengembangkan lahan tersebut untuk agribisnis dan agriwisata.

Beberapa jenis tanaman dibudidayakan. Antara lain jagung, cabai dan bawang merah. Selain itu, mereka memanfaatkan potensi pemandangan alam yang berlatar belakang Bengawan Solo dan Gunung Lawu dengan melengkapi sarana rekreasi, seperti tempat bermain anak-anak, kolam, pendapa, dan gazebo.

Kepala Rutan Kelas IIB Wonogiri, Urip Dharma Yoga didampingi sejumlah pejabat Rutan mengungkapkan, Rutan Wonogiri mempunyai lahan seluas 4,1 hektare. Seluas 0,9 hektare di antaranya berupa bangunan dan 3,2 hektare sisanya berupa tanah terbuka.

“Lahan yang berada di belakang Rutan itu dahulu tidak produktif, hanya ditumbuhi semak belukar,” katanya, Senin (7/10).

Mulai 2018 lalu, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan & Pangan) Wonogiri untuk mengadakan pelatihan, penyuluhan, penyediaan bibit jagung, dan meminjam sarana pertanian.

“Kami juga meminjam traktor dari Dinas Pertanian dan backhoe dari Kodim Wonogiri untuk meratakan lahan,” ujarnya.

Lokasi Outingclass

Panen perdana jagung ternyata sangat memuaskan, mampu menghasilkan
tujuh ton jagung. Hanya, harga jagung di pasaran saat itu anjlok hingga Rp 1.500 per kilogram.

“Sebesar 15 persen hasilnya diberikan sebagai premi untuk para Napi yang bekerja, sehingga bisa jadi nafkah untuk keluarga. Sebagian lagi menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Dulu hanya 10 Napi, sekarang ada 17 Napi yang ikut bekerja,” imbuhnya.

Pihaknya kemudian mencoba menanam bawang merah pada lahan seluas 300
meter persegi. Hasilnya juga sangat memuaskan, mencapai empat kuintal.
“Bawangnya sudah habis dibeli pegawai, masyarakat sekitar Rutan, guru
TK dan orang tua anak TK,” terangnya.

Mereka kini memanfaatkan potensi keindahan alam berlatar belakang Bengawan Solo dan Gunung Lawu itu untuk agriwisata. Bahkan, beberapa TK dan SD memanfaatkan perkebunan tersebut untuk lokasi outingclass.

“Kalau pagi indah sekali, matahari terbit dari balik Gunung Lawu. Malam hari juga indah. Saat terang bulan, liuk-liuk Bengawan Solo kelihatan indah,” katanya. (Khalid Yogi)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini