Abolpistuk, Inovasi Memanfaatkan Bonggol Pisang

abon-buatan-pelajar-sma-3-sragen
CICIPI ABON: Wabup Dedy Endriyatno mencicipi abon bonggol pisang kluthuk buatan pelajar SMA 3 Sragen, saat ajang Kreanova di Pendopo Sumanegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, Senin (30/9) lalu. (suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

BUKAN pelajar Sragen namanya, kalau tidak bisa berkreasi dan berinovasi. Hal ini pula yang dilakukan Amelia Risanti Hafsha (16) dan Najla Ghinada Vhinasty (16), dua pelajar SMA 3 Sragen ciptakan abon dari bonggol Pisang Kluthuk atau Abolpistuk.

Dua siswi kelas XI IPA itu berinovasi membuat abon dari bonggol pisang kluthuk, yang selama ini dianggap sebagai limbah.

Amelia yang akrab dipanggil Amel itu menjelaskan, awal terciptanya abon bonggol pisang kluthuk itu ketika mereka mencari ide inovasi untuk lomba Kreatifitas dan Inovasi (Kreanova).

Saat di pekarangan rumah, dia melihat banyak pohon pisang kluthuk, dimana biasanya hanya daun serta buahnya saja yang dimanfaatkan dan bonggolnya dibuang begitu saja.

Mereka lalu membuat abon dari bonggol pisang kluthuk tersebut.
Dalam proses pembuatan mereka tidak menggunakan bahan pengawet, garam ataupun campuran daging.

“Kami tidak menggunakan garam, bahan pengawet hanya menggunakan kaldu jamur,” tutur Amel. Untuk menambah nilai ekonomi dari abon bonggol pisang ini diberi nama “Abolpistuk” atau Abon Bonggol Pisang Kluthuk.

Untuk menambah pilihan rasa, Abolpistuk ini dibuat enam varian rasa. Diantaranya pedas manis, balado, pedas teri, udang, manis gurih dan original.
“Abon ini awet hingga tiga bulan,” tandas Amel.

Saat ini, Amel dan Najla memasarkan produknya melalui kantin SMA 3 Sragen dan online.

“Harganya, per satu kemasan Rp 7.000,- dengan berat 100 gram. Sedangkan Rp 10.000,- untuk 150 gram tergantung varian rasa,” jelasnya.

Menu Alternatif

Menurut dia, harga Abolpistuk itu sangat terjangkau bila dibanding abon daging sapi. Dimana biasanya abon daging sapi satu kilogramnya bisa mencapai Rp 200.000. Sementara abon bonggol pisang buatan mereka harganya hanya Rp 70.000/kilogramnya.

“Itu kita bisa untung Rp 40.000 untuk perkilogramnya,” kata Najla. Meski saat ini sudah banyak pesanan yang datang, mereka belum berani memproduksi dalam jumlah besar, baru sebatas rencana dari pihak sekolah.

Kendati demikian, mereka mengatakan siap jika mendapat orderan sebelumnya. Untuk izin produksi, mereka mengaku sedang mengurusnya.

“Kalau untuk produksi dalam jumlah banyak belum bisa, tenaganya belum ada, tapi sudah banyak yang ingin bantu menjual atau memasarkan ke masyarakat,” tegas Najla.

Abolpistuk itu menjadi salah satu peserta dalam lomba Kreanova, yang diikuti 21 peserta dari wilayah eks Karesidenan Serakarta, yang digelar di Pendopo Sumanegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen dan dibuka Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyanto, Senin (30/9) lalu.

Wabup Dedy Endriyatno bangga dan mengapresiasi kreasi dan inovasi Abolpistuk itu. Menurut Wabup, idenya sangat kreatif karena memanfaatkan bonggol pisang yang sebelunnya hanya menjadi limbah karena tak bisa dipakai menjadi bermanfaat karena dijadikan abon.

“Ide yang sangat kreatif dan harus dikembangkan lebih lanjut karena responnya juga cukup baik,” kata Wabup.

Bahkan juga bisa jadi makanan alternatif dan secara ekonomis juga terjangkau. Inovasi Abolpistuk juga bisa menstimulasi anak-anak lain dari Sragen berkreasi menemukan hal-hal baru, yang membawa manfaat untuk masyarakat dan keuntungan bagi mereka. (Basuni Hariwoto)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini