Kreanova, Ajang Anak SMA/SMK Sragen Berani Berkreasi

kreasso-sragen
TINJAU PESERTA: Wabup Dedy Endriyatno meninjau salah satu peserta Krenova, yang digelar di di Pendopo Sumanegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen, pada Senin (30/9).(suaramerdekasolo.com/Basuni Hariwoto)

SRAGEN,suaramerdekasolo.com – Sebanyak 21 kelompok pelajar SMA dan SMK dari wilayah eks Karesidenan Surakarta, mengikuti lomba Kreatifitas dan Inovasi (Kreanova), Senin (30/9). Ajang yang dibuka Wakil Bupati (Wabup) Dedy Endriyanto ini digelar di Pendopo Sumanegaran Kompleks Rumah Dinas Bupati Sragen. Kegiatan ini adalah tahapan dimana para generasi penerus mengukur kapasitas dan kemampuan dirinya, dengan kreatifitas dan inovasi yang dihasilkan.

Ada sembilan bidang kreanova yang dilombakan. Antara lain kelompok agrobisnis dan pangan, energi kehutanan dan lingkungan hidup, kelautan dan perikanan, kesehatan obat-obatan dan kosmetik, pendidikan, rekayasa teknologi, serta kerajinan industri rumah tangga dan sosial.

Wabup Dedy mengaku bangga dan kagum dengan para pelajar saat ini. Dimana mereka mampu mendeteksi permasalahan di sekitarnya dan mencoba mengurai dalam suatu kreatvitas dan inovasi. Menurutnya kreatifitas itu tidak selalu muncul dari orang cerdas, namun karena ada rasa keingintahuan dan kemauan dalam memecahkan. “Ajang Kreanova ini jadi tahapan dimana para generasi penerus dalam mengukur kapasitas dan kemampuan dirinya. Bahwa kreativitas itu tidak selalu berbanding lurus dengan kecerdasan yang dimiliki, tapi lebih karena rasa ingin tahu yang tinggi dan ada keberanian,” kata Wabup.

Inovasi Produksi

Dia berharap agar ajang kreatifitas dan inovasi para pelajar SMA dan SMK seperti Kreanova ini terus ditingkatkan. Salah satu tujuannya agar semakin banyak manfaat yang bisa dihasilkan dari fantasi dan keberanian mencoba para generasi muda.

Melia Risanti Hafsha dan Najla Ghinanada Vhinasti dari SMA 3 Sragen mengatakan, dalam ajang Kreanova ini mereka datang dengan kreasi dan inovasi produksi bonggol pisang kluthuk yang diolah menjadi abon. Dimana abon dari bonggol pisang kluthuk ini diklaim rasanya tidak kalah dengan abon daging sapi. “Makanan ini menjadi pangan alternatif yang diproduksi dari nonberas,” kata Melia.

Sementara Leony Vita Artanti peserta dari SMA 1 Klaten dalam inovasinya berhasil mengubah sampah plastik jadi lampion cantik dan bernilai jual tinggi. Setiap bulan, dia mampu meraup keuntungan dari pemasaran lampion sampah plastik buatannya.

“Lampion dari sampah plastik ini harganya Rp 80 ribu dan sebulan bisa terjual 10-20 buah,” tutur Leony. Tidak hanya itu, dari kreasi dan inovasinya itu, dia berhasil mendapat penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dalam Bidang Teknoprener Muda Pemula. (Basuni Hariwoto)

Editor : Nindya Achmadi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini