Gerakkan Ekonomi Masyarakat lewat Pasar Ngatpaingan

pasar-ngatpaingan-cepogo-boyolali
PENGUNJUNG: Sejumlah pengunjung membeli makanan di Pasar Ngatpaingan yang digelar di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Minggu (29/9). (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Ribuan warga mendatangi Pasar Ngatpaingan di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo, Minggu (29/9). Pedagang pasar menyajikan aneka menu tradisional di jalan dukuh.

Ada puluhan pedagang yang semuanya warga setempat. Uniknya, para pedagang juga mengenakan pakaian tradisional berupa kain lurik. Adapun menu yang dijual antara lain, getuk, gendar, tiwul,  pecel dan aneka makanan hasil ladang setempat.

Seperti, ubi ganyon, gembili, kacang dan kedelai rebus. Makanan bisa langsung dimakan di tempat ataupun dibawa pulang. Penjual menghindari pemakaian plastih. Jadilah, besek, daun pisang maupun batok kelapa jadi pengganti piring.

Hanya saja, kalau makanan dibawa pulang, tetap dimasukkan plastik kresek. Sebagian besar pengunjung membeli makanan untuk disantap di tempat. Namun, sebagian memilih juga untuk dibungkus sebagai oleh- oleh.

Selain pasar makanan tradisional, pengunjung juga disuguhi kirab hasil bumi. Dimana peserta kirab membawa aneka makanan hasil ladang setempat, utamanya aneka jenis umbi- umbian yang sudah direbus.

Kirab di jalan pedukuhan pun mendapat sambutan meriah pengunjung. Sesampai di tanah lapang dekat lokasi pasar Ngatpaingan, makanan hasil bumi lalu didoakan bersama- sama oleh tokoh agama. Selanjutnya, makanan dibagi- bagikan untuk dimakan bersama.

Panitia Pasar Ngatpaingan, Pangat mengatakan, kegiatan tersebut digelar rutin setiap selapan atau 35 hari sekali. Pihaknya mengambil waktu pada Minggu pahing. Sehingga dinamakan Pasar Ngatpaingan.

“Kami ingin mengajak masyarakat untuk kembali menikmati makanan tradisional yang lebih sehat,” katanya disela acara.

Aneka Makanan

Kegiatan tersebut sekaligus untuk menghidupkan kegiatan ekonomi masyarakat. Mengingat para penjual makanan adalah penduduk setempat. Yang dijual pun adalah makanan yang seluruh bahan diperoleh dari penduduk atau petani setempat.

“Kmai berharap kegiatan ini bisa menghidupkan kegiatan pariwisata pedesaan, utamanya di Dangean yang berada di lereng Merapi- Merbabu. Utuk kirabnya, digelar setahun sekali.”

Salah satu pengunjung, Nadia (25) asal Solo mengaku senang bisa mengikuti Pasar Ngatpaingan tersebut. Dirinya, bisa menikmati kembali aneka makanan atau jajanan tradisional yang selama ini sudah semakin jarang didapat.

“Bagus banget, ini juga bisa menghidupkan agenda pariwisata pedesaan.”

Namun demikin, dia berharap Pasar Ngatpaingan meniadakan bungkus plastik. Untuk makanan yang dibawa pulang, bisa dibungkus dengan daun atau besek sehingga kesan tradisional semakin kental.

“Tidak seperti saat ini, untuk makanan yang dibawa pulang pengunjung, masih dibungkus plastik. Padahal pembungkus plastik hanya menambah produksi sampah saja.” (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini